aku adalah seorang perempuan. Karenanya, sunnatullah apabila aku mengharapkan suatu saat diberi amanah terindah yang akan memanggilku “Ibu”.Kehendak Allah ialah satu-satunya penentu apakah amanah tersebut akan dititipkan padaku kelak.
Tetapi, yg ku tahu satu hal, jauh sebelum amanah itu ada aku telah mencintai yg akn jd anakku kelak. Bahkan sebelum ia lahir. Maka tertuturlah kata demi kata. Sebuah ungkapan rindu seorang calon ibu yang mengharapkan anaknya menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata). Kata merangkai kalimat. Kalimat memendar lembar. Lalu lembar pun mewujud setumpuk surat. Aku menamakannya “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu. ^__^
”Banyak, banyak sekali yang ingin aku curahkan dalam surat-surat tersebut. Tentang cinta dan harapan bagi anak-anakku nanti. Tentang pengalaman. Pemikiran. Nilai-nilai kehidupan. Betapa aku mengharapkan bahwa bait-bait surat yang datangnya dari hati ini nantinya dapat mengkristal menjadi sebuah refleksi bagi anak-anakku.. Bukankah Amr bin Qais pernah berkata bahwa ‘kata-kata yang keluar dari relung hati akan masuk pula ke dalam hati’? Sehingga mudah-mudahan kebaikan saja -tidak yang lain- yang akan mereka petik dari surat ibunda mereka, insya Allah.

Berikut beberapa paragraf dari lembar-lembar itu;

Anandaku, bagaimana kabarnya dirimu? Ini ibundamu, Nak. Menuliskan helai demi helai surat ini sebagai wujud cintaku. Meski belum jua kuketahui kapankah dirimu akan hadir menjadi amanah terindah bagiku. Tetapi percayalah, aku sudah mencintaimu.Segenap jiwa, aku telah merindukanmu. Mendoakan dunia akhiratmu. Memelukmu erat. Menciummu hangat. Bahkan sebelum engkau hadir.Ayahandamu, belum menjadi suamiku ketika aku menuliskan ini. Doa kami masih di langit. Hanya perkara waktu sampai Allah mempertemukan kami. Tetapi percayalah, ia pun sudah mencintaimu sejak kini.Impian kami satu, Nak, menjadi ayah dan ibu terbaik bagimu. Ayah dan ibu yang segenap cintanya lekat di hatimu. Mengiringi detak, langkah, dan helamu. Menemani perjalanan lahir dan batinmu. Hingga ke surga kelak, insya Allah.

Sebagaimana di jelaskan di diatas, banyak sekali yang ingin aku curahkan dalam surat ini. Salah satunya tentang pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Lho, kok bisa? Ya, proses penulisan ini kan ajang belajar juga, agar dapat menjadi istri dan ibunda terbaik dunia akhirat. Jadi, ini adalah bagian dari usaha tiada henti dalam mempersiapkan dan memperbaiki diri. Mudah-mudahan Allah meridhai usahaku. Amiin. ^_^

Berikut petikannya lagi;

Anakku yang dicintai Allah, sudah kewajibanku pula untuk mengingatkanmu, bahwa kau bukan hanya akan mencari seorang suami atau istri, Nak. Akan tetapi, juga seorang ayah dan ibu bagi anak-anakmu kelak. Dari spermanya akan mengutuh jati diri anakmu nanti. Dalam rahimnya akan mewujud buah hatimu kelak.

Karenanya, pandanglah jauh menerawang. Bukan semata dari kedudukannya saat ini, Nak. Bukan pula sebatas ketampanan dan kecantikannya kini. Bayangkan bertahun kemudian. Ketika kalian menua bersama. Ketika kalian menatih jalan anak pertamamu. Ketika kalian merapikan mukena gadis kecilmu yang sedang belajar shalat.

Seperti apa ia kelak, Nak? Apakah ia akan membangunkan anakmu dengan kecupnya sewaktu Subuh menjelang? Akankah ia melantunkan alquran sebagai lagu nina bobo bagi anakmu? Yakinkah kau bahwa anakmu akan menjadi prioritas utamanya, bahwa ia akan menjadi ayah dan ibu penuh waktu –bukan ayah dan ibu akhir pekan?

Sebagaimana kau ketahui, Nak. Aku menuliskan ini bahkan ketika aku belum dapat memastikan seperti apa sosok ayahmu. Namun kujanjikan kepadamu, Nak, aku mendoa siang malam agar Allah menganugerahimu ayah terbaik bagimu dunia dan akhiratmu. Ayah dengan hati lembut, yang senyum penuh kasihnya buncah setiap memandangmu. Ayah dengan tubuh kuat, yang sanggup mengajarimu berpeluh demi umat. Ayah dengan cita-cita besar, yang menanamkan ridha Allah sebagai tujuan utama keluarga kita.

Sebagaimana kau ketahui pula, Nak. Aku menuliskan ini bahkan ketika aku belum tahu bilakah aku menjadi ibundamu. Namun, siang malam pula, Nak, aku berdoa agar mampu menjadi ibu terbaik bagi dunia dan akhiratmu. Ibu yang memperdengarkan ayat suci sejak kau dalam kandungan. Ibu yang berwujud sahabat terbaikmu. Ibu yang menggenggam tanganmu erat dalam mengarungi naik turun kehidupanmu.

Mungkin akan lama surat-surat ini menanti, hingga tersampai pada masa yang tepat bagi anakku untuk membacanya. Tetapi bukankah Allah adalah pengabul segala pinta? Karenanya biarlah ini menjadi salah satu wujud doaku. Biarlah terpanjat. Biarlah terdengar.Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min (40): 60)

======================================================================


buat calon ayah dan calon bunda yg lain…yuuuk nulis surat buat calon anaknya..[halah..cicit kumat lagi..]
orang tua adalah sebuah profesi seumur hidup. profesi yang menyedihkan, kalau aku boleh jujur. membesarkan anak-anaknya dengan susah payah, lalu harus rela untuk melepas mereka pergi.
tentu para orangtua itu turut senang, jika anaknya bahagia dengan kepergian tersebut.
dan lebih anehnya, masih banyak orang di dunia ini yang ingin menjalani profesi tersebut. dengan doa-doa yang mengantri untuk dikabulkan, agar kelak mendapat kesempatan itu…
salah satunya ya aku..^__^
kalo boleh jujur aku ingiiiiiiiiin segera menjadi ibu.. sudah banyak list doa doa yg sdh kubuat untuk anak2ku kelak..
semoga Allah segera menjawab keinginanku dan mempertemukanku dgn ayah yg baik,benar2 baik utk anakku kelak ^__^
Aamiin Ya Robbal Alamin..