Archive for September, 2012

Aku selalu Bahagia Saat Hujan Turun :)


Bahagia itu adalah saat kau rindu akan hujan dan Allah mengabulkan pintamu dgn menurunkan berkahnya lewat hujan..
Aahh senangnya akhirnya Palembangku diguyur hujan
 

Inilah yg kurasakan saat ini, sudah lama sekali rindu hujan..
Yah ternyata aku sangat merindukan hujan.. Hujan yg bersahabat itu, huajan yg membawa kedamaian..
Jujur saja, hujan yang menetes lembut dari langit itu seakan menenangkan hatiku. Entah mengapa bisa demikian? Ketika hujan yang bersahabat itu turun, sungguh rasanya ada cahaya yang masuk ke dalam hatiku.. Ketika itu terjadi, aku sempat bingung dengan beberapa saudaraku yang mencela kedatangannya. Sungguh aku bingung dengan pikiran mereka. Kenapa hujan yang begitu menenangkan itu selalu mereka cela? Bukankah Allah telah berfirman:
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)

Hujan… seperti yang telah dikabarkan oleh Al-Qur’an bahwa hujan itu membawa barokah. Hanya dengan makhluk ciptaan Allah yang satu ini, tumbuhan bisa tumbuh. Lantas masihkah kita akan mencela kedatangannya?? Jujur saja, aku sangat merindukan hujan yang turun dengan tenang itu… Hujan yang begitu mendamaikan…
“Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (“hujan”) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan “hujan” itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2:22)

Dan ketahuilah saudaraku, kalau dengan turunnya hujan itu, doa kalian akan mudah terkabul. Seperti yang ada dalam hadist berikut:
“Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa ketika waktu adzan dan doa ketika waktu hujan”. Dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 3078).

mungkin sebagian saudara kita yang mencela hujan itu karena mereka takut tidak bisa bekerja seperti biasanya. Tapi cobalah pandang dari sudut yang lain, bahwa hujan itu benar-benar memberikan sebuah kedamaian. Cobalah pikirkan, dengan datangnya hujan, kita bisa berdoa dan sangat mungkin sekali untuk terkabul.

Berkhusnudzon-lah dengan Allah! Yang menentukan agenda kita bisa berjalan atau tidak itu bukanlah hujan. Tapi Allah !!! Jika Allah ingin agenda kita berjalan, maka agenda itu akan berjalan meskipun hujan sedang turun. Dan sebaliknya, agenda kita tetap akan gagal apabila Allah berkehendak untuk gagal sekalipun itu gak turun hujan.
Pandanglah hujan itu sebagai nikmat,… Nikmat yang Allah sengaja turunkan dari langit. Nikmat yang dengan itu manusia bisa hidup.

Sungguh… Aku Benar-Benar Rindu Hujan… Ingin rasanya aku berdoa ketika itu. Ingin rasanya aku curhat dengan Allah dikala waktu hujan itu. Ingin rasanya aku meneteskan air mata ketaatan dikala hujan sedang menyapa. Ya Allah… semoga Engkau selalu mengijinkan hamba-Mu ini untuk senantiasa tidak mencela hujan. Ya Allah… semoga Engkau selalu mengijinkan hamba-Mu ini untuk senantiasa berdoa dikala hujan itu turun.. Sungguh aku rindu hujan…

Mungkin terkadang ketika hujan itu turun, sempat ada pikiran yang melintas dalam benakku.. “Ya Allah semoga beberapa tahun kedepan aku bisa berdoa dikala hujan turun bersama seseorang yang telah Engkau jodohkan kepada hamba.” #aaaaaaa..

Ya, aku rindu hujan saat ini layaknya aku rindu hujan beberapa tahun kedepan… Ketika waktu itu tiba, mungkin aku juga berharap bahwa aku juga bisa berdoa dikala hujan tiba. Berdoa dengan dia yang dirahasiakan oleh Allah saat ini… Berdoa dengan dia yang memiliki sebuah nama yang sama sekali tidak kutahu…
“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentramanan daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu “hujan” dari langit untuk menyucikan kamu dengan “hujan” itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).” (QS. 8:11)

Pentiing !
ilmu yg wajib diketahui bagi setiap muslimah 🙂

- - ASSALAFIYYAH - -

Pertanyaan:

Apakah dibolehkan membaca al-Quran tanpa berwudhu terlebih dahulu? Bagaimana hukum memegang dan membaca al-Quran bagi wanita yang sedang haid?

Jawaban:

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita simak fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz berikut.

Menurut jumhur (mayoritas) ahli ilmu, tidak boleh bagi seorang muslim menyentuh mushaf (al-Quran) jika ia tidak berwudhu. Pendapat ini dikuatkan pula oleh imam yang empat

View original post 1,912 more words

Innocence of Muslims, Kebebasan Bersekspresi.. Benarkah???


Tidak putus-putusnya umat Islam di dunia diprovokoasi untuk marah. Junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW, tidak henti-hentinya mendapat hinaan dan pelecehan oleh orang lain. Yang terbaru adalah penayangan film “Innocence of Muslim” di Amerika. Film berdurasi panjang ini juga sudah tersebar di situs Youtube. Seperti dikutip dari sini, “film ini mengisahkan tentang kehidupan Nabi Muhammad yang, parahnya, dibumbui dengan tema pedofil dan homoseksualitas. Sejumlah adegan dalam film yang berdurasi 2 jam ini telah diunggah ke internet dan bisa juga dilihat di sejumlah saluran satelit privat”.

Protes umat Islam di seluruh dunia terhadap film tersebut berlangsung hingga sekarang dan sudah banyak korban yang berjatuhan, termasuk Dubes AS yang tewas di Libya. Mungkin aksi demo anarkis inilah yang ditunggu-tunggu oleh pembuat film dan kaum Islamophobia, sebab dengan begitu mereka mempunyai alasan untuk membenarkan stigma bahwa Islam adalah agama yang identik kekerasan. Tujuan membuat film itu sendiri sangat jelas yaitu untuk menyebarkan kebencian kepada Islam, namun dibungkus dengan dalih kekebasan berekspresi.

Bagi dunia Barat, kebebasan berekspresi adalah segala-galanya. Manusia bebas mengekspresikan apapun yang dia inginkan dan tidak seorangpun yang berhak melarangnya. Film “Innocence” menambah deretan kebebasan berekspresi yang melukai hati umat Islam. Masih segar dalam ingatan kita novel “Ayat-ayat Setan” yang ditulis oleh oleh Salman Ruhdie, film pendek “Fitna” oleh Geert Wilders di Belanda, dan penayangan kartun Nabi di harian Jillands Posten di Denmark. Sasarannya jelas untuk membuat kontroversi, sebab mereka tahu benar kalau di dalam Islam tidak boleh memvisualkan Nabi, ditambah lagi dengan bumbu-bumbu yang menggambarkan Nabi Muhammad sebagai seorang yang memiliki sifat buruk.

Di dunia Barat penghinaan terhadap Yahudi dianggap sebagai anti-semit, penghinaan terhadap kulit hitam dianggap rasis. Di Eropa, jika anda menolak mengakui peristiwa Holacaust (pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh tentara NAZI), maka anda akan dipenjara. Anehnya, penghinaan terhadap simbol-simbol Islam tidak dianggap Barat sebagai bentuk kriminal (crime), namun dipandang sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Begitulah standard ganda Barat terhadap Islam.

Umat Islam masih bisa “menahan diri” ketika penghinaan itu dilakukan kepada Sang Pencipta, hal itu dapat kita lihat dari tulisan-tulisan ateistik yang tidak mempercayai keberadaan-Nya. Penghinaan terhadap Tuhan sudah berlangsung berabad-abad sejak zaman dulu sampai sekarang. Namun, ketika penghinaan itu dilakukan terhadap Nabi junjungan mereka yang sangat dimuliakan dan dicintai itu, maka rasa amarah yang tidak tertahankan meletup sampai tidak terkendali.

Kecintaan umat Islam kepada Kanjeng Nabi itu tidak hanya dalam ucapan salawat dan salam yang selalu dibaca setiap shalat, tetapi kecintaan itu diabadikan dengan menamakan anak-anak mereka dengan nama “Muhammad”. “Muhammad” adalah nama yang paling populer di dunia..

Begitu besar kecintaan orang Islam kepada Rasulullah, sebab kecintaan kepada Rasulullah adalah tanda kesempurnaan iman, sebagaimana Hadis Nabi yang berbunyi sebagai berikut:

Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya.”

atau dalam hadis lain yang senada:

“Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, ‘Demi Dia yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah beriman seorang di antaramu hingga ia mencintaiku melebihi cintanya pada ayahnya dan pada anak-anaknya.’” [Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA]

Oleh karena itu, aksi-aksi demo menentang penghinaan terhadap Rasulullah seharusnya dapat dilihat secara adil. Mereka menjadi anarkis karena hati mereka sudah sangat terluka. Apapun, termasuk nyawa sekalipun, mereka korbankan untuk membela kemuliaan Nabi junjungan umat. Tidak seorangpun yang rela bila orang yang dihormati atau dimuliakannya direndahkan atau dilecehkan oleh orang lain. Seorang anak tidak akan terima jika ibu kandungnya dihina oleh orang lain, dia akan sangat marah dan terluka, bahkan dia mau bersabung nyawa untuk membela kehormatan orangtuanya. Itu baru kepada orangtua, apalagi terhadap Rasulullah dimana kecintaan kepada beliau di atas kecintaan kepada anak atau orangtua. Saya bukan setuju atau mendukung aksi yang menjurus anarkis itu, tetapi saya bisa memahami mengapa hal itu bisa terjadi.

Kebebasan, di mana pun itu, harus diiringi dengan rasa tanggung jawab. Kebebasan yang kebablasan, yaitu yang tidak menghargai hak dan keyakinan orang lain, hanya akan melahirkan api dendam dan kebencian yang tidak habis-habisnya. Kebebasan berekspresi tidaklah sama dengan bebas untuk menghina atau melecehkan apa saja,karena ada keyakinan pihak lain yang harus dipertimbangkan..

Imamku, Dimana Letak Kesholehaanku?

Tulisan ini di dapat dari blog Sekolah Penulis Indonesia ..
Waktu bacanya langsung #makjleebb , tertohok bangeett 😦

Imamku, Dimana Letak Kesholehaanku?

Teruntuk seseorang yang telah tertulis dalam ketentuan-Nya, calon imamku, ayah dari anak-anakku, Dengarkanlah untaian kata dari goresan penaku ini. Dengarkanlah seruan hatiku ini;

Maafkan aku ya tulang rusukku, saat ini aku belum sesholehah yang kau bayangkan. Saat ini jiwaku masih terlalu hitam. Jiwaku masih berlumpur dosa. Aku belum bisa menjadi seorang wanita sholehah yang kau bayangkan. Lisan ini masih terlalu kotor ya kasihku. Lisan ini teramat sering membicarakaan kesalahan Si fulan. Masih sering menjatuhkan Si fulan. Masih suka ghibah ya kasihku. Maka dimana letak kesholehahanku?

Akupun tak seperti yang kau bayangkan. Shalatku kadang masih suka telat. Shalatku teramat sering tak khussyu. Shalat malamku pun bolong-bolong. Shalat dhuha-ku hanya sesempatku saja, seingatku saja. Maka dimana letak kesholehahanku?

Mengajiku tak seindah yang kau bayangkan. Jangankan tartil, Makhrajku saja masih jauh dari sempurna. Bahkan bacaan tajwidkupun masih terbolik-balik. Aku pun tak tau bacaan sujud syahwi. Lagi-lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hafalan Al-Quranku pun masih terpaksa. Terpaksa karena tiap pekan bertemu dengan ustadz-ustadzku. Aku malu jika aku tak menyetor hafalanku. Aku malu pada teman-temanku. Maka dimana letak kesholehah-anku?

Bahkan mata ini masih terlalu amat banyak berzina. Mata ini masih suka menonton yang bukan menjadi haknya. Mata ini lebih banyak menonton TV dibanding mengaji Al-Quran. Dibanding membaca kumpulan doa Al-Ma’surat, apalagi membaca kumpulan Hadist-hadist yang tebal itu? Maka dimana letak kesholehehanku?

Hatiku tak selembut Fatimah, tak secerdas Aisyah. Aku masih suka berkata menyakitkan kepada saudari-saudariku. Bahkan sehari ini pun aku belum menyapa ibuku, aku belum menyapanya dalam doa. Dimana letak baktiku? Sekali lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hai laki-laki sholeh yang telah tertulis di lauhul mahfudz, imamku, dan ayah dari anak-anaku, engkau yg setia dan sabar terhadap kami kelak, Masihkah kau ingin memilihku menjadi istrimu? Masihkah kau ingin melanjutkan kehidupanmu denganku? Hai laki-laki sholeh, bahkan membayangkan menjadi sahabatmu saja aku tak berani. Aku sungguh malu membayangkan itu. Apalagi membayangkan aku menjadi istrimu?

Jika kelak kau menjadi suamiku, imam bagi keluargaku, maka ajarkanlah aku semua itu. Ajarkanlah aku menjaga lisanku. Ajarkanlah aku menjaga pandanganku. Ajarkanlah aku shalat khusyu. Ajarkanlah aku mengaji yang benar. Ajarkanlah aku hati yang lembut. Ajarkanlah aku berbakti padamu ya calon ayah dari buah hatiku. ajarkan semuanya padaku.

Aku yakin saat ini kau sedang mempersiapkanya semua. Memantaskan diri menjadi imam bagiku dan buah hatimu kelak. Aku yakin saat ini kau sedang beribadah dengan khusysu. Saat ini kau sedang menjaga pandanganmu. Saat ini kau sedang menjaga lisanmu. Saat ini kau sedang mencintai saudara-saudaramu.

Seandainya yang tertuliskan olehku adalah kebenaran tentangku menurutmu, duhai, alangkah menghibanya aku. Seandainya yang tercatatkan olehku adalah ukuran penilaian mu, duhai, alangkah merananya aku ya kasihku.

Sungguh, aku percaya dengan firman-Nya;

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk permpuan-perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula..” (QS. An-Nur:26)

Doakan aku ya kasihku agar aku tetap Istiqomah memperbaiki diri. Doakan aku agar aku memang pantas bersanding di pundakmu. Bersanding berdua bersamamu menikmati secangkir kopi di pagi hari. Bersanding berdua denganmu dalam selimut malam; bersanding denganmu untuk mendapat Surga-Nya.

Aamiin Ya Rabb

Ehhmm.. Karakter berdasarkan golongan darah A, sebenernya ada betulnya tapi jg ada salahnya..
kayaknya kalo suka ceplas ceplos ga jugaa..
kalo ceria n cerewet siy iyaa 😀

Sekolah Penulis Indonesia

Habis membaca tulisan sebelah tentang karakter manusia berdasarkan golongan darah. Sepertinya ada benarnya juga. karena ternyata di negara Jepang sana, lebih percaya menggunakan golongan darah dibbanding dengan Zodiak ataupun Zhio. Katanya, golongan darah itu ditentukan oleh protein-protein tertentu yang membangun semua sel di tubuh kita dan juga menentukan psikologi dalam diri kita.Apa golongan darah kamu? saya A.

KARAKTER MANUSIA BERDASARKAN GOLONGAN DARAH

Golongan Darah A :
Sikapmu lembut, tapi dalam mengambil keputusan nampak tegas. Suka mengalah dan ringan tangan. Suka membantu siapa saja yang sedang dilanda kesusahan. Sekalipun orang yang ditolongnya baru pertama kali dijumpainya, alias belum dikenal.Bahkan terkadang sifat sosialnya itu agak diluar batas kewajaran sebagai manusia. Habis udah tau punya uang pas-pasan misalnya, eh malah diberikan ke orang lain. Tapi ya itu, dia hanya akan memberikan pertolongan
berdasarkan perasaan hati nurani alias nggak perlu diminta. Justru pada orang yang terang-terangan meminta padanya, dia amat nggak suka.Orang punya golongan…

View original post 465 more words

Untukmu wahai diriku..

ImageJika kesedihan, luka, kecewa, sakit bahkan bahagia pun akan menjadi masa lalu pada akhirnya ,mengapa mesti ϑî ratapi terlalu dlm,sedang sabar, tegar dan berbagi akn membuatnya lebih bermakna…

Jika hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan, sedang begitu banyak kebaikan bisa ϑî lakukan..^^

Untk mu wahai diri yang sedang merasakan penderitaan, kesedihan, kekecewaan, penyesalan, kegagalan. BANGKIT & tersenyumlah,..
Jangan biarkan diri tenggelam, sedangkan ia akan menjadi masa lalu pada akhirnya….

^^Keep SPIRIT,,Keep SMILE… 🙂