ImageMasalah Niat, Perkara Berat

Niat bukanlah perkara sepele, nilai seluruh kegiatan kita ditentukan oleh niat! Bahkan satu aktivitas yang sama, bisa beda jauh nilainya hanya gara-gara niat.

Contoh, ada orang yang bekerja sekedar untuk dapat gaji (kebanyakan orang begini), ada yang bekerja untuk aktualisasi diri, ada yang bekerja supaya tidak dicap pengangguran, ada yang bek

erja untuk mencari jodoh, ada yang bekerja untuk mendapatkan teman, ada yang bekerja untuk ibadah (ahli bekam yang tidak menentukan tarif misalnya), dan berjuta niat lainnya.

Sama juga dengan belajar, tidur, mandi, menonton TV, mendengar radio, menulis cerpen, baca buku, berpakaian, berdandan, berbelanja, belajar bahasa asing, bahkan shalat, puasa, sedekah, keseluruhan amalan kita juga ditentukan oleh niat dalam hati. Coba perhatikan, apa sih niat kita ketika memakai parfum hari ini?

Jika kita melakukan sesuatu hanya untuk hal yang bersifat keduniaan, nilai niat kita itu rendah, karena dunia sifatnya sementara dan semu, tapi jika kita mengerjakan sesuatu dengan niat ibadah, maka kita berhasil meninggikan nilai perbuatan kita itu, karena tidak semata-mata mengharapkan dunia, tapi juga berpikir mengenai kehidupan kelak di negeri akhirat.

Lagipula, bukankah Allah telah menyatakan bahwa manusia hidup di muka bumi hanya untuk beribadah pada-Nya? Maksud ibadah di sini bukan sekedar ibadah khusus yang bersifat ritual, kan tidak mungkin dong kita shalat terus-menerus 24 jam sehari, atau puasa 30 hari sebulan, atau membaca Quran non-stop hingga seminggu. No way! Lagipula memang bukan itu yang diminta.

Maka, ibadah yang dimaksud bisa jadi telah dapat dipenuhi hanya dengan memasang niat yang benar. Bukankah ketika kita telah berniat melakukan suatu kebaikan, kita telah memperoleh satu pahala kebaikan tersebut, dan jika niat itu benar-benar dikerjakan maka kita mendapat satu pahala lagi, jadi double pahalanya!

So, niat itu sangat penting diperhatikan!

Sayangnya… Niat Tak Terlihat

Yang membuat perkara niat ini semakin berat, terkadang kita sendiri tidak menyadari apakah niat kita sudah tepat belum. Misalnya saat kita memberi recehan pada pengamen di bis, kita tidak sadar bahwa kita hanya memasang niat begini… “Ah, males masukin kembalian logaman ke tas, buat pengamen itu aja deh!”

Ya ampyun, sayang banget kan? Soalnya… apa yang kita niat, itu yang kita dapat! Jadi ketika kita bersedekah hanya karena malas memasukkan uang kembalian ke dalam tas, ya sudah… kita tidak dapat nilai tambahan apapun dari amalan itu. Wuih!

Bodohnya… banyak sekali orang yang hanya memasang niat “rendah” untuk seluruh aktivitas hidupnya tanpa merasa rugi (mungkin kita termasuk). Mereka mandi supaya tidak bau, tidur untuk menghilangkan kantuk, makan supaya hilang lapar, baik pada atasan supaya naik jabatan, lembur supaya dapat makan malam gratis dan tambahan gaji, mengerjakan tugas supaya tidak dihukum.

Padahal niat kan hanya masalah hati, apa susahnya kalau memasang niat yang lebih “tinggi” dari sekedar hal duniawi? Misalnya… mandi karena Islam menyukai kebersihan, dan kebersihan adalah sebagian dari iman, kemudian tidur agar tubuh beristirahat dan mampu menunaikan amanah dengan baik keesokan harinya, makan agar tubuh sehat, karena Allah menyukai muslim yang kuat, baik pada atasan karena Allah menyuruh kita menaati pimpinan, mengerjakan tugas dengan baik karena Allah menyukai orang-orang yang menunaikan amanah.

Niat memang tak terlihat, tapi bukankah bisa dikontrol dan dibiasakan?

Jangan Mau Rugi!

Seandainya kita mendapat kesempatan bertemu dengan seorang kaya raya yang punya segalanya, dermawan, rupawan (cantik/ ganteng), cerdas, sabar, sebut saja sebagai Mr./Mrs. Perfect, dan ia bersedia mengabulkan apapun yang kita minta tanpa kecuali (wow!). Sekarang pikirkan dengan jernih, apa kira-kira yang akan kita minta padanya?

Uang? Mobil? Laptop plus modem internet? Blackberry? Minta perusahaan? Minta rumah idaman? Minta beasiswa ke luar negeri? Atau apa?

Rasanya rugi banget kalau hanya minta hal-hal yang kita butuhkan sementara itu saja. Bukankah lebih cerdas kalau kita minta cintanya saja sekalian?

Loh kok?

Iya dong… karena jika ia telah cinta pada kita, bahkan tanpa kita minta… ia akan memenuhi segala kebutuhan kita. Iya kan? (Mungkin cara ini yang sekarang sedang tren dilakukan oleh para artis, menikah dengan pengusaha tajir, tapi kita tidak sedang membicarakan perihal artis-artis ini, apalagi memuji mereka cerdas).

Jika Mr./Mrs. Perfect telah mencintai kita, tentu ia tidak akan sekedar memenuhi segala kebutuhan materi saja, tapi juga kebutuhan kita akan perlindungan, pengayoman, hiburan, nasehat, yang mungkin tidak akan kita peroleh jika hanya meminta barang-barang bersifat fisik padanya. Hmm…

Apakah kita sepakat mengenai cara cerdas ini? Jangan mau rugi!

Setuju?

Nah, sekarang sadarilah, bahwa sang Maha Kaya itu adalah Allah, Ia memiliki segalanya, dan memiliki 99 sifat luar biasa yang terlihat dalam asmaaul husna, Sabar iya… Cerdas iya… Penyayang iya… Dermawan iya… perfect bukan? Dan yang luar biasa, Ia bersedia mengabulkan segala yang kita minta pada-Nya! Dia malah menyuruh kita untuk meminta hanya pada-Nya!

Bukankah rugi dan amat bodoh kalau kita sekedar minta keperluan kita yang remeh-temeh saja? Kenapa tidak sekalian meminta cinta-Nya saja? Bukankah jika Allah mencintai kita, kita tidak perlu takut kekurangan apa pun lagi.

Oleh karena itu, mengapa kita tidak meniatkan segala perbuatan yang kita lakukan di dunia ini adalah demi memperoleh cinta Allah? Toh kita hidup di dunia tidak lama, paling mantap 140 tahun (menurut sensus), itu pun jarang sekali

Niat Karena Allah, Seperti Apa Sih?

Meniatkan sesuatu karena Allah adalah sesuatu yang gampang diucapkan tapi tidak mudah dipraktekkan. Karena ini merupakan hal yang paling ideal. Memang idealnya kita melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu hanya karena Allah semata, tapi konkretnya seperti apa?

Misalnya begini… ketika kita bekerja, niat kita adalah karena Allah, karena memang Allah membenci orang yang mengemis dan bergantung pada orang lain. Jadi kita tidak mau mengandalkan duit orangtua bukan karena pemberian orangtua dianggap kurang. Sehingga meskipun kita jadi tukang sayur, tukang ojek, tukang antar gas, tukang sampah, tidak merasa malu apalagi minder, dan meski kita menjadi pegawai pajak, menteri, presiden, atau apapun, kita tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan aturan Allah, karena niat kita bukan untuk jabatan, pangkat, atau nominal pendapatan.

Lalu, ketika kita belajar, niat kita juga karena Allah, bukankah Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita belajar sampai akhir hayat? Jadi kita tidak hanya belajar sekedar kalau ada ulangan, kalau disuruh orangtua, kalau masih di bangku sekolahan atau kuliah, tapi kita belajar setiap waktu, bahkan meski sudah punya cucu dan cicit sekalipun, kita belajar dari tiap pengalaman, kesalahan, dan belajar mengambil hikmah dari segala peristiwa.

Atau, kita tidak melakukan sesuatu juga karena Allah. Kita berniat tidak pacaran atau menonton video porno bukan karena takut diomeli ortu, atau supaya dilihat orang sebagai orang alim, tidak! Melainkan karena tahu bahwa Allah membenci orang yang memperturutkan hawa nafsu.

Juga, kita menolak untuk membeli barang mewah (contoh: sepatu seharga sejuta, kaos oblong seharga lima ratus ribu, hape seharga sebelas juta) atau mengadakan pesta berbiaya besar (pesta nikah ratusan juta bahkan milyaran, pesta ultah jutaan rupiah) bukannya karena tidak mampu, melainkan karena tahu Allah tidak menyukai segala yang berlebihan!

Begitulah, niat karena Allah berarti menjadikan Allah sebagai tujuan dari setiap perbuatan kita.

Niat Tidak Hanya Di Awal

Sering kita menganggap bahwa niat hanya ada di awal perbuatan, kita lupa bahwa manusia punya nafsu, dan iblis bisa mengalir di darah manusia. Artinya… meski niat awalnya sih baik, tapi di tengah-tengah tetap saja bisa tergelincir, artinya… niat bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, oleh karena itu sangat dibutuhkan pengontrolan dan pembaharuan niat secara berkala, tiap harinya.

Lagipula… kalau untuk mendapatkan cinta “gebetan” aja diperlukan pengorbanan dan melewati berderet cobaan, apalagi untuk mendapatkan cinta Allah! Sudahlah pasti banyak ujian yang bisa memperlihatkan kesungguhan niat kita. Jadi jangan sampai merasa kita sudah ikhlas dan sudah memasang niat yang benar ketika kita berbuat suatu kebaikan, tapi setelah itu seluruh orang tahu bahwa kita sudah melakukan kebaikan ini dan itu. Wah… itu sih riya namanya, alias pamer. Dan Allah tidak menyukai orang yang pamer.

Apa yang Diniat, Itu yang Didapat

Berikut merupakan tips agar kita tidak menjadi orang yang rugi, yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan baik, tapi niatnya keliru atau bernilai rendah karena hanya mengharapkan dunia:

Selalu awasi hati kita. Apa sih niat kita melakukan sesuatu? Contoh: Benarkah kita pedekate ke guru/ dosen demi menimba ilmu darinya? Atau karena ingin dapat nilai lebih tinggi dibanding kawan yang lain? Apa sih tujuan kita bersahabat dengan si fulanah yang tajir itu? Benar-benar ingin jadi sobat baik atau agar terciprat traktirannya? Dll.
Memperbaharui niat ketika merasa ada yang tidak beres. Meskipun niat tidak terlihat, tapi gelagatnya bisa loh terendus! Misalnya, kita ngakunya niat kerja demi Allah… eeh begitu di tengah-tengah tahun gaji diturunkan, semangat kerja juga jadi kendor. Bukannya evaluasi apakah kinerja kita kurang dari harapan, kita malah loyo.
Biasakan Niat Tinggi. Pasanglah niat yang tidak hanya bersifat keduniaan, agar perbuatan kita bisa memperoleh berkah Allah. Coba rasakan perbedaan uang yang didapat memang dengan niat pengen dapat duit, dengan uang yang didapat tidak dengan niat tersebut, pasti jauh berbeda! Uang yang diberkahi bisa bermanfaat lebih besar dan bisa membawa kebahagiaan lebih dalam.
Jangan ucapkan niat kita pada orang lain. Jika niat kita memang sudah benar, jangan sampai kita membuatnya jadi tidak benar hanya gara-gara mulut kita gatel untuk pamer ke orang lain.

Jadi Sobat, jangan salah! Bukannya kita tidak boleh meminta dunia, sangat boleh… Allah pun menyuruh kita untuk tidak melupakan bagian hidup kita di dunia ini, hanya saja… kalau kita bisa mendapat lebih dari itu, kenapa kita puas hanya dengan mendapat dunia?

Bukankah Allah menjanjikan… orang-orang yang meminta dunia ini, Ia akan segera memberikannya, sedangkan orang-orang yang meminta akhirat, Allah akan memberi 2: dunia dan akhirat sekaligus untuknya. So, apa yang diniat itu yang didapat! Niat itu sama seperti permintaan, maka mintalah yang tertinggi! Mintalah firdaus… mintalah cinta Allah, hasbiyallah… cukuplah Allah yang menjadi alasan kita bahagia ^^

Advertisements