Archive for August, 2012

Pudarnya Pesona Cleopatra

Image

Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )
Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)
……………………………………

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalamn kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu”

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenisakan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.

Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah atas baktiku pada ibuku yang kucintai.

Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.

Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga”

Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

***

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

” Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!”

sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “

Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.

Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.

***

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini.

***

Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.

Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

***

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi�?�ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.

Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya.

Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

” Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”.

Hatiku bergetar hebat. ” Dunia tiba-tiba gelap semua …”
PENYESALAN TIADA BERARTI.. KINI DIA SUDAH PERGII…

Penyesalan tak akan ada artinya lagi bila sudah terlambat… Jadi selagi kita bisa sayangilah orang-orang terdekat kita OK…

Mengeluh?? –> Gaaa’ dehh^^

ImageIni ayat yang sering kita baca dan denger, tapi mungkin juga ayat yang sering kita lupa. ALLAH udah janji kalo sesudah kesulitan ada kemudahan, dan kita juga nyadar kalo gak ada lagi yang lebih benar janjinya selain ALLAH.

Jadi, gak ada alasan buat menyerah gitu saat mendapat ujian kan? 🙂

So, don’t give up. ALLAH udah jamin kok kalo sebenarnya kamu sanggup melakukannya. Insya ALLAH bisa…^_^

Image

Niat,, Perkara sepele atau berat??

ImageMasalah Niat, Perkara Berat

Niat bukanlah perkara sepele, nilai seluruh kegiatan kita ditentukan oleh niat! Bahkan satu aktivitas yang sama, bisa beda jauh nilainya hanya gara-gara niat.

Contoh, ada orang yang bekerja sekedar untuk dapat gaji (kebanyakan orang begini), ada yang bekerja untuk aktualisasi diri, ada yang bekerja supaya tidak dicap pengangguran, ada yang bek

erja untuk mencari jodoh, ada yang bekerja untuk mendapatkan teman, ada yang bekerja untuk ibadah (ahli bekam yang tidak menentukan tarif misalnya), dan berjuta niat lainnya.

Sama juga dengan belajar, tidur, mandi, menonton TV, mendengar radio, menulis cerpen, baca buku, berpakaian, berdandan, berbelanja, belajar bahasa asing, bahkan shalat, puasa, sedekah, keseluruhan amalan kita juga ditentukan oleh niat dalam hati. Coba perhatikan, apa sih niat kita ketika memakai parfum hari ini?

Jika kita melakukan sesuatu hanya untuk hal yang bersifat keduniaan, nilai niat kita itu rendah, karena dunia sifatnya sementara dan semu, tapi jika kita mengerjakan sesuatu dengan niat ibadah, maka kita berhasil meninggikan nilai perbuatan kita itu, karena tidak semata-mata mengharapkan dunia, tapi juga berpikir mengenai kehidupan kelak di negeri akhirat.

Lagipula, bukankah Allah telah menyatakan bahwa manusia hidup di muka bumi hanya untuk beribadah pada-Nya? Maksud ibadah di sini bukan sekedar ibadah khusus yang bersifat ritual, kan tidak mungkin dong kita shalat terus-menerus 24 jam sehari, atau puasa 30 hari sebulan, atau membaca Quran non-stop hingga seminggu. No way! Lagipula memang bukan itu yang diminta.

Maka, ibadah yang dimaksud bisa jadi telah dapat dipenuhi hanya dengan memasang niat yang benar. Bukankah ketika kita telah berniat melakukan suatu kebaikan, kita telah memperoleh satu pahala kebaikan tersebut, dan jika niat itu benar-benar dikerjakan maka kita mendapat satu pahala lagi, jadi double pahalanya!

So, niat itu sangat penting diperhatikan!

Sayangnya… Niat Tak Terlihat

Yang membuat perkara niat ini semakin berat, terkadang kita sendiri tidak menyadari apakah niat kita sudah tepat belum. Misalnya saat kita memberi recehan pada pengamen di bis, kita tidak sadar bahwa kita hanya memasang niat begini… “Ah, males masukin kembalian logaman ke tas, buat pengamen itu aja deh!”

Ya ampyun, sayang banget kan? Soalnya… apa yang kita niat, itu yang kita dapat! Jadi ketika kita bersedekah hanya karena malas memasukkan uang kembalian ke dalam tas, ya sudah… kita tidak dapat nilai tambahan apapun dari amalan itu. Wuih!

Bodohnya… banyak sekali orang yang hanya memasang niat “rendah” untuk seluruh aktivitas hidupnya tanpa merasa rugi (mungkin kita termasuk). Mereka mandi supaya tidak bau, tidur untuk menghilangkan kantuk, makan supaya hilang lapar, baik pada atasan supaya naik jabatan, lembur supaya dapat makan malam gratis dan tambahan gaji, mengerjakan tugas supaya tidak dihukum.

Padahal niat kan hanya masalah hati, apa susahnya kalau memasang niat yang lebih “tinggi” dari sekedar hal duniawi? Misalnya… mandi karena Islam menyukai kebersihan, dan kebersihan adalah sebagian dari iman, kemudian tidur agar tubuh beristirahat dan mampu menunaikan amanah dengan baik keesokan harinya, makan agar tubuh sehat, karena Allah menyukai muslim yang kuat, baik pada atasan karena Allah menyuruh kita menaati pimpinan, mengerjakan tugas dengan baik karena Allah menyukai orang-orang yang menunaikan amanah.

Niat memang tak terlihat, tapi bukankah bisa dikontrol dan dibiasakan?

Jangan Mau Rugi!

Seandainya kita mendapat kesempatan bertemu dengan seorang kaya raya yang punya segalanya, dermawan, rupawan (cantik/ ganteng), cerdas, sabar, sebut saja sebagai Mr./Mrs. Perfect, dan ia bersedia mengabulkan apapun yang kita minta tanpa kecuali (wow!). Sekarang pikirkan dengan jernih, apa kira-kira yang akan kita minta padanya?

Uang? Mobil? Laptop plus modem internet? Blackberry? Minta perusahaan? Minta rumah idaman? Minta beasiswa ke luar negeri? Atau apa?

Rasanya rugi banget kalau hanya minta hal-hal yang kita butuhkan sementara itu saja. Bukankah lebih cerdas kalau kita minta cintanya saja sekalian?

Loh kok?

Iya dong… karena jika ia telah cinta pada kita, bahkan tanpa kita minta… ia akan memenuhi segala kebutuhan kita. Iya kan? (Mungkin cara ini yang sekarang sedang tren dilakukan oleh para artis, menikah dengan pengusaha tajir, tapi kita tidak sedang membicarakan perihal artis-artis ini, apalagi memuji mereka cerdas).

Jika Mr./Mrs. Perfect telah mencintai kita, tentu ia tidak akan sekedar memenuhi segala kebutuhan materi saja, tapi juga kebutuhan kita akan perlindungan, pengayoman, hiburan, nasehat, yang mungkin tidak akan kita peroleh jika hanya meminta barang-barang bersifat fisik padanya. Hmm…

Apakah kita sepakat mengenai cara cerdas ini? Jangan mau rugi!

Setuju?

Nah, sekarang sadarilah, bahwa sang Maha Kaya itu adalah Allah, Ia memiliki segalanya, dan memiliki 99 sifat luar biasa yang terlihat dalam asmaaul husna, Sabar iya… Cerdas iya… Penyayang iya… Dermawan iya… perfect bukan? Dan yang luar biasa, Ia bersedia mengabulkan segala yang kita minta pada-Nya! Dia malah menyuruh kita untuk meminta hanya pada-Nya!

Bukankah rugi dan amat bodoh kalau kita sekedar minta keperluan kita yang remeh-temeh saja? Kenapa tidak sekalian meminta cinta-Nya saja? Bukankah jika Allah mencintai kita, kita tidak perlu takut kekurangan apa pun lagi.

Oleh karena itu, mengapa kita tidak meniatkan segala perbuatan yang kita lakukan di dunia ini adalah demi memperoleh cinta Allah? Toh kita hidup di dunia tidak lama, paling mantap 140 tahun (menurut sensus), itu pun jarang sekali

Niat Karena Allah, Seperti Apa Sih?

Meniatkan sesuatu karena Allah adalah sesuatu yang gampang diucapkan tapi tidak mudah dipraktekkan. Karena ini merupakan hal yang paling ideal. Memang idealnya kita melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu hanya karena Allah semata, tapi konkretnya seperti apa?

Misalnya begini… ketika kita bekerja, niat kita adalah karena Allah, karena memang Allah membenci orang yang mengemis dan bergantung pada orang lain. Jadi kita tidak mau mengandalkan duit orangtua bukan karena pemberian orangtua dianggap kurang. Sehingga meskipun kita jadi tukang sayur, tukang ojek, tukang antar gas, tukang sampah, tidak merasa malu apalagi minder, dan meski kita menjadi pegawai pajak, menteri, presiden, atau apapun, kita tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan aturan Allah, karena niat kita bukan untuk jabatan, pangkat, atau nominal pendapatan.

Lalu, ketika kita belajar, niat kita juga karena Allah, bukankah Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita belajar sampai akhir hayat? Jadi kita tidak hanya belajar sekedar kalau ada ulangan, kalau disuruh orangtua, kalau masih di bangku sekolahan atau kuliah, tapi kita belajar setiap waktu, bahkan meski sudah punya cucu dan cicit sekalipun, kita belajar dari tiap pengalaman, kesalahan, dan belajar mengambil hikmah dari segala peristiwa.

Atau, kita tidak melakukan sesuatu juga karena Allah. Kita berniat tidak pacaran atau menonton video porno bukan karena takut diomeli ortu, atau supaya dilihat orang sebagai orang alim, tidak! Melainkan karena tahu bahwa Allah membenci orang yang memperturutkan hawa nafsu.

Juga, kita menolak untuk membeli barang mewah (contoh: sepatu seharga sejuta, kaos oblong seharga lima ratus ribu, hape seharga sebelas juta) atau mengadakan pesta berbiaya besar (pesta nikah ratusan juta bahkan milyaran, pesta ultah jutaan rupiah) bukannya karena tidak mampu, melainkan karena tahu Allah tidak menyukai segala yang berlebihan!

Begitulah, niat karena Allah berarti menjadikan Allah sebagai tujuan dari setiap perbuatan kita.

Niat Tidak Hanya Di Awal

Sering kita menganggap bahwa niat hanya ada di awal perbuatan, kita lupa bahwa manusia punya nafsu, dan iblis bisa mengalir di darah manusia. Artinya… meski niat awalnya sih baik, tapi di tengah-tengah tetap saja bisa tergelincir, artinya… niat bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, oleh karena itu sangat dibutuhkan pengontrolan dan pembaharuan niat secara berkala, tiap harinya.

Lagipula… kalau untuk mendapatkan cinta “gebetan” aja diperlukan pengorbanan dan melewati berderet cobaan, apalagi untuk mendapatkan cinta Allah! Sudahlah pasti banyak ujian yang bisa memperlihatkan kesungguhan niat kita. Jadi jangan sampai merasa kita sudah ikhlas dan sudah memasang niat yang benar ketika kita berbuat suatu kebaikan, tapi setelah itu seluruh orang tahu bahwa kita sudah melakukan kebaikan ini dan itu. Wah… itu sih riya namanya, alias pamer. Dan Allah tidak menyukai orang yang pamer.

Apa yang Diniat, Itu yang Didapat

Berikut merupakan tips agar kita tidak menjadi orang yang rugi, yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan baik, tapi niatnya keliru atau bernilai rendah karena hanya mengharapkan dunia:

Selalu awasi hati kita. Apa sih niat kita melakukan sesuatu? Contoh: Benarkah kita pedekate ke guru/ dosen demi menimba ilmu darinya? Atau karena ingin dapat nilai lebih tinggi dibanding kawan yang lain? Apa sih tujuan kita bersahabat dengan si fulanah yang tajir itu? Benar-benar ingin jadi sobat baik atau agar terciprat traktirannya? Dll.
Memperbaharui niat ketika merasa ada yang tidak beres. Meskipun niat tidak terlihat, tapi gelagatnya bisa loh terendus! Misalnya, kita ngakunya niat kerja demi Allah… eeh begitu di tengah-tengah tahun gaji diturunkan, semangat kerja juga jadi kendor. Bukannya evaluasi apakah kinerja kita kurang dari harapan, kita malah loyo.
Biasakan Niat Tinggi. Pasanglah niat yang tidak hanya bersifat keduniaan, agar perbuatan kita bisa memperoleh berkah Allah. Coba rasakan perbedaan uang yang didapat memang dengan niat pengen dapat duit, dengan uang yang didapat tidak dengan niat tersebut, pasti jauh berbeda! Uang yang diberkahi bisa bermanfaat lebih besar dan bisa membawa kebahagiaan lebih dalam.
Jangan ucapkan niat kita pada orang lain. Jika niat kita memang sudah benar, jangan sampai kita membuatnya jadi tidak benar hanya gara-gara mulut kita gatel untuk pamer ke orang lain.

Jadi Sobat, jangan salah! Bukannya kita tidak boleh meminta dunia, sangat boleh… Allah pun menyuruh kita untuk tidak melupakan bagian hidup kita di dunia ini, hanya saja… kalau kita bisa mendapat lebih dari itu, kenapa kita puas hanya dengan mendapat dunia?

Bukankah Allah menjanjikan… orang-orang yang meminta dunia ini, Ia akan segera memberikannya, sedangkan orang-orang yang meminta akhirat, Allah akan memberi 2: dunia dan akhirat sekaligus untuknya. So, apa yang diniat itu yang didapat! Niat itu sama seperti permintaan, maka mintalah yang tertinggi! Mintalah firdaus… mintalah cinta Allah, hasbiyallah… cukuplah Allah yang menjadi alasan kita bahagia ^^

Aku, kau dan “DIA”…

Image

^^Diam ku ini tidak bermakna aku lemah atau pun pecundang..^^

^^Diamku menandakan aku KUAT!!!
Kuat memikul beban berat dan dilema yang sangat menyiksa..

^^Dalam diamku…
Aku mencintai DIA dan kau..
Itulah rahasia di balik diamku..

Dan kesalahan ku selama ini adalah
“Kusejajarkan DIA dan kau di hati ku”
Dan tahukah kau betapa besar dosa yang ku miliki selama ini???

^^Dalam Diamku..
Aku Mencintai DIA dan kau…
Tapi aku tak mau DIA cemburu,, 😦
Sekarang,,Cinta segi tiga ini tak ingin ku lanjutkan..
Aku lebih memilih menyerahkan hatiku pada DIA (Rabb ku)
DIA yang menjanjikanku Cinta abadi yang berlabel “HALAL”

Betapa Indah pakaian Taqwamu…

Image

setahun yg lalu aku mendapat kata kata ini dari seseorang..

ketika membacanya, rasanya jlebb bangett..

 

Betapa indah pakaian taqwamu.. kau dengar perintah Robbmu dan tanpa berpikir panjang kau taati perintah-Nya..

Di saat banyak wanita lain tdk bersedia menutup auratnya, bahkan dengan bangga mempertontonkannya tapi kau bersedia.. kau bersedia menutupi auratmu, kau tutupi keindahan tubuhmu, kau tutupi apa yg kebanyakan wanita lain banggakan.. lalu kau tukar kebanggaan itu dengan ridho dari Dzat Yang

Menciptakan seluruh alam semesta..
Lalu kau mendapat kebanggaan lain yg tdk didapat oleh kebanyakan wanita lainnya.. yaitu kebanggaan seorang muslimah yg berjalan d jalan Alloh

Di kala sudah mulai nampak banyak wanita yg mulai berani berpakaian namun telanjang, engkau sama sekali tak bergeming.. kau pertahankan aqidahmu, kau pertahankan prinsip ketaqwaanmu.. jangankan menampakkan aurat, membentuk lekuk tubuhpun haram bagi pakaian taqwamu..
Jangankan menyentuhmu, memandangmupun tidak sembarang mata yg bisa..

Saat zaman sudah mulai akrab dengan wanita2 yg sangat biasa (kalau kata2 “murah” adalah terlalu kasar), kau terlihat sangat mahal dengan segala ketaatanmu, mahal karena sama sekali belum terjamah tangan2 kotor ..

Kadang ku terpaksa beristighfar ktika melihat wanita berpakaian namun seperti tak menghargai dirinya sendiri, tp betapa bersyukurnya q ketika tahu masih ada sosok2 sepertimu..

Wahai wanita berhijab lebar lg tebal setebal keimananmu.. Jadilah engkau istri2 bagi kami, ibu dari anak2 kami, lalu tularkanlah kepandaianmu dalam menjaga perintah Alloh dan Rosul-Nya lewat didikan kedua tanganmu yg lembut namun tegas pada generasi2 penerus kami.. agar mereka menjadi orang2 yg bertaqwa.. Insya Alloh..

Perhiasan dunia itu yaa wanita sholeha^^

Image

Bismillah.

Wanita sholehah mahal harganya

Ia tak menyentuh dan tak mau disentuh sembarang lelaki

Ia menjaga pandangan matanya dan menjaga dirinya dari pandangan mata lelaki ajnabi

Ia tak mau menjadi fitnah bagi kaum adam

Bila msh sendiri ia tahu bagaimana menjaga iffah seorang muslimah

Bila sudah bersuami ia makin mengerti bagaimana menjaga kehormatan seorang istri, suaminya, dan keluarganya

Wanita sholehah bukan wanita yg bisa sembarang disentuh, bukan pula wanita yg bisa sembarang dipandang kecantikannya, apalagi wanita yg dngan sengaja membuat para lelaki kagum kepadanya.

Bukan…

Karena ia tahu kewajiban menjaga kehormatannya.

Walau itu berarti ia harus menutupi dan mengorbankan kecantikannya

Sungguh ia rela,

Karena ia tidak mencari kekaguman manusia atas dirinya

Tapi ridho Alloh Ta’ala ketika bertemu dengan-Nya kelak

Krn ia wanita sholehah

…. Kisah si Joko…

Baca Dulu ea Mpe Slsei.,Insya allah Bakal Nambah Pengetahuan Tentang Kandungan Besar al-Qur’an., dan keajaibannya.,

Ngapain Juga Sih Gw Ngaji … !!!

Arif : Cuy, gue pinjem Quran Lu dunk.. duh seharian gw Belum ngaji sama skalii ini .. Gw lupa bawa mushaf pas berangkat ke rumah lu tadi…

Joko : Yah rip, Quran gw ilaang dari kapan tauuuu

Arif : Ilang ? sejak kapan ?

 Joko : Beeeehhh, udah lama banget, sejak gw lulus SMA

 Arif : Eh busseettt, udah 4 taun lu kgak punya Quran ?Jangan bilang udah 4 taun juga Lu kgak pernah ngaji ..

 Joko : Yaaa iyyyaaa laaahhh .. Lu gimana sih, jelas-jelas gw kga punya! Udah ah, GAK PENTING tau ngaji.. mana ntu hurup KRIWIL-KRIWIL gakjelas, Liak-Liuk bisa bikin mata gw MINUS..

 Arif : Ih Elu… kok gtu siih … Tapi Lu masih bisa ngaji kaaann ?

 Joko : Bisa dooonggg, kan kita dulu sama-sama di SD Islam Al-Fajar, diajarin cara ngaji sama Pak Budi .. Masa Elu Lupa…!! Udah kaya kakek gwpelupa mulu ampe BETE gw kalo ngobrol ama die

 Arif : Lha trus trus, kalo Lu masih bisa ngaji knapa Lu kgak ngaji ??Joko : Gw belum dapet hidayah Rip…

 Arif : Idiiih, masa Lu harus nunggu dapet hidayah ?? Lahhhh, kalo ampe Lu mati Lu kagak dapet hidayah, gmana ntu ?

 Joko : Ya biarin aja

 Arif : sembarangan Lu ngomong…!!!

 Joko : Ya elaaahh Rip, yg penting kan gw gak lupain sholat 5 waktu … !! Lha kan amalan pertama yg ditanya ntar sholatnya !! kalo sholatnya bae, ya kesono-sononya juga bae… Lu gak denger apa kata Haji Umam pas ceramah kemaren !! Lagi-lagi Lu lupa deh.. !

Arif : I….iiiya siiih, tapi kaaann ………..

Joko : Hayooo mau ngomong apa Lu ???? kalah kan Lu ama gw !!! hahaha

Arif : Kooo, apa Lu gak bangga sebagai muslim ?

 Joko : Ya jelas bangga dong meeenn… buktinya gw masih solat.. tarawehdi masjid gw pake Koko… rapiihh, ampe tetangga kita yang bening ntu naksir ma gw .. ahaha

 Arif : Trus Lu bangga gak dengan pedoman hidup Lu ??

 Joko : maksud Lu Quran ??

 Arif : ya iya laaaahhh. Masa komik DN Angel .. !

 Joko : Jelas bangga dong boy .. kan Quran itu nunjukin ke arah kebaikan

Arif : Trus knpa Lu kgak baca ???!!!

 Joko : nah ntu dia Rip, BELUM DAPET HIDAYAH !!!!

 Arif : Ko, apa Lu pikir hidayah itu harus ditunggu ?

 Joko : Ya iya lah Rip …

 Arif : tanpa ada usaha ??

 Joko : Yooooiii

 Arif : Skarang gini deh, Lu ada program Quran digital gak d komputer Lu ?

 Joko : ada

 Arif : Coba Lu buka deh

 Joko : Udeh.. Lu mau apa sii ? mau nyuruh gw baca Quran lewat monitorcomputer ? Ogah ah, kgak enak tau baca dari monitor.. Tar mata gw JURING

 Arif : gw gak nyuruh lu untuk itu kok, coba deh di program ntu, Lu masuk fasilitas SEARCH, trus Lu ketik kata lautan.. trus enter

 Joko : Udeh boy

 Arif : coba deh Lu itung tuh, kata lautan ada berapa di Quran?

Joko : Idih, ogah banget deh gw dsuruh ngitung!! emank gw BABU Lu!

 Arif : gw kasih wafer satu bungkus deh, ni udah gw siapin khusus buat Lu..

 Joko : bener yeee … awas Lu boong … mmm .. atu, dua ….. ada 32 kali cuy

 Arif : sekarang coba Lu ketik daratan, ada berapa ntu kata di Quran ?

 Joko : atu… dua … tiga …….. …… lebih banyak cuy, ada 45 ..!! Ntar dulu deh, maksud Lu nyuruh gw ngitung-ngitung kyak anak SD gini buat apasiii ? gak jelas banget kayaknya…

 Arif : Udeh deh, Lu ikutin aja … itu angka Lu simpen dulu di otak Lu ye.. skarang gw mau Tanya, jumlah lautan ama daratan di bumi ini banyakan mana si luasnya ??

 Joko : ya lautan lah boyy, Lu gmana sih .. Wong lautan aja ampe kurang lebih 70% dari luas permukaan bumi .. kalo gak salah tepatnya 71,111 %

 Arif : Pinter Lu ??

 Joko : Ya elah, itu kan pelajaran geografi SMP, masih dasar jadinya gue ingett

 Arif : Ok.. masih inget tadi Allah nyebutin kata lautan dan daratan berapa ?

 Joko : 32 ama 45

 Arif : coba Lu bagi 32 dengan 45 .. nih pake kalkulator gw

 Joko : mmm…. Hasilnya ….. 0,711111111111

 Arif : itu kan baru bilangan desimalnya .. kalo dalam skala 100 % ????

 Joko : yaaa… berarti jadi 71,111111 % ….

 Arif : gmana menurut Lu ?

 Joko : gimana apanya ?

 Arif : ya itu tuuu .. ituuuhhh, angka 71,11111 % .. kata Lu jumlah lautan kisarannya ada 71,1111 % dari luas permukaan bumi

 Joko : Iya Rip ye, sama banget sama perhitungan gw ini

 Arif : Itu baru satu contoh keajaiban Quran bro … masih banyak prediksi Qur’an yang di kemudian hari bener!!

 Joko : keren juga ya… btw, kok Lu bisa pinter Rip ? perasaan Lu dulu rada-rada bandel deh

 Arif : Ya itu karna gw sering ikut pengajian ko, makanya gw tau .. disamping ngaji gw juga baca-baca buku agama.. jadinya tau deh.. Nih ada pertanyaan lagi, Lu kan anak farmasi, pasti tau dunk.. nomor massa besi berapa ?

 Joko : ada yang 56, 57, ama 58 gr/mol …Cuma yang stabil ntu 57 gr/mol

 Arif : Coba Lu liat surat ke 57 di Quran digial Lu ntu. Itu surat apa ?

 Joko : Surat Al-Hadiid..

 Arif : Artinya ??

 Joko : artinya Besi …

 Arif : Tuh kan klop! 57 …. !! Gak mungkin ini suatu kebetulan, Penyusunan Al-Quran itu udah hampir 14 abad yang lalu.. Orang dulu mana tau nomor massa besi yang terstabil 57 gr/mol .. !! Ini emang udah Allohrancang supaya kita bisa ngambil hikmah kalo Quran ini bener dari Allohdatangnya, luar biasa, supaya kita gak segan-segan untuk ngebacanya..

 Joko : Iya Rip, Quran keren yaa… Gw… gw baru tau … Parah banget gw kgak pernah baca kitab gw sendiri, padahal di dalemnya isinya luar biasadahsyat … Gw ngerasa ilmu agama gw cetek banget …. Gw males banget Cumabaca Quran .. Gw … gw … (tertunduk lesu)

 Arif : Nih Ko, gue mau kasih tau ke Lu .. hidayah itu gak akan bisa dateng kalo kita Cuma nunggu sambil males-malesan.. sampe MATI juga bisa-bisa ntu hidayah untuk ngaji gak kan dateng… Lu tau Salman Al-Farishi kan?? Sahabat Nabi yang terkenal di perang Khandaq pas kaum muslimin udah dikepung di dalem kota.Tapi dia ngusulin bkin parit di sepanjang lingkar kota yang gak ketutupan bukit. Alhasil, kaum muslimin menang!!

Joko : maksud Lu ?

 Arif : itu Cuma selingan.. balik lagi ke yang tadi .. hidayah itu bisa dateng kalo disertai usaha juga! Orang mau berhenti mabok, tapi kalo masih temenan ama yang mabok-mabok, masih ke diskotik, ya pasti ujung-ujungnya kena juga ..Sama aja kayak si Salman ini.. dia ntu dulu lahir d tanah Persia, terlahir sebagai penyembah Api, agamanya Majusi.. Tapi, suatu ketika ia sadar cara beribadahnya salah.. Ia keluar dari agamanya, tapi yang ia dapet kakinya malah dirantai sama bokapnya …Akhirnya ia ketemu sama pemuka agama yang lewat depan rumah. Atas ijin Alloh lepaslah tu rantai dan dia ikut belajar sama pemuka agama ntu. Sekian lama belajar, eh ntu guru udah tua dan gak bisa lagi ngajarin Salman. Akhirnya ia disuruh ke pemuka agama yang lain atas rekomendasi gurunya ntu. Akhirnya pindahlah ia ke daerah Mosui. Setelah beajar di sana, si guru yang baru juga udah tua, sakit-sakitan, dan nyuruh salman pergi ke guru yang lain di Amuria. Itu di daerah Romawi boy, Lu bayangin aja pindah sejauh itu… ! Akhirnya pindah lagi deh die.Sesampainya di sana, ketemulah ia sama ntu guru. Ia belajar sekian lama, sampai suatu waktu ntu guru juga udah gak sanggup dan minta Salmanpergi.. Si Guru berpesan ke Salman kalo sekarang udah ada nabi terakhiryang turun, lokasinya di daerah yang ditumbuhi pohon kurma dan datarannya gersang berpasir. Ntu guru minta salman supaya nemui tuh orang, karna dia nabi terakhir dan ada cap kenabiannya.Dengan berbagai upaya yang panjang, ia ketemu sama kafilah yang juga menuju ke tanah Arab, si Salman ikut dan singkat cerita ia ketemu denganRasulullah Muhammad SAW trus menyatakan diri keislamannya!!Hmm, sebenernya ceritanya panjang banget boy, ini gue singkat-singkataja .. kalo Lu baca shironya Salman yang mencari Tuhan, Gw yakin Lu nangis bacanya

 Joko : (menitikkan air mata)

 Arif : Ya udah Ko, ga pa pa … gw Cuma pengen sohib gue tau aja.. Kan kita wajib saling nasihat-menasihati dalam kebaikan bukan ??

 Joko : Rip, makasi ya, Lu emang sohib gue .. Gw nyesel banget gak pernah baca Quran .. Rip anterin gw ke toko buku ya sekarang

 Arif : mau ngapain ?

 Joko : Ya beli Quran lah Rip, Kan gw gak punya Quran …..

 Arif : Alhamdulilah .. terimakasih Ya Alloh … pasti Ko, pasti gw anterin … hayuu

 

 

======================================== =============

 

setelah peristiwa itu, Joko menjadi rajin mengaji. Setiap setelah maghrib dan shubuh, ia selalu menyempatkan membaca 2-5 lembar Al-Qur’an.Subhanalloh. Kita pun bisa seperti Joko, selama kita memiliki usaha untuk menjemput hidayah yang kita inginkan.

 

so, bagaimana menurut sobat semua?? sudahkah selama ini kita dekat dengan Alqur’an…

  Wassalam