Nak, dengarlah, ini Bundamu, Bunda yang belum juga kau singgahi pangkuannya, belum juga kau dengar detak jantungnya saat kepalamu menyandar pasrah di dada Bunda, belum juga kau rasakan ketenangan saat mendengarkan Bunda mendendangkan lagu kesayangan…

Ya, inilah Bunda yang dijanjikan Allah kepadamu…

Nak, dengarlah bunda akan bertutur, bukan mengatur, hanya sedikit mengajakmu berbincang dan saling membagi kidung rindu yang menggedor-gedor di dinding jiwa,

Kepadamu wahai insan yang belum dapat kusentuh lembut kulitmu, belum dapat kukecup wangi ubun-ubunmu, belum dapat kupeluk tubuh mungilmu, belum dapat kunyanyikan senandung sayang kepadamu,

Hei nak, engkau yang belum juga sampai waktunya untuk berada di sisi Bunda, dengarlah, dengarlah detak jantung Bunda yang membayangkan sensasi kehadiranmu di masa depan,Rasailah gejolak rindu yang mendesak-desak di jiwa Bundamu ini, Lalu, katakanlah sesuatu di saat engkau menemukan cinta di hati Bundamu,

Anakku yang tengah dipersiapkan dan mempersiapkan dirinya di sana, Bunda cemas membayangkan hadirmu di dunia Bunda suatu hari nanti, Adakah Bunda mampu menjadi malaikat pelindungmu seutuhnya? Adakah Bunda mampu mendidik jiwa dan akalmu? Adakah Bunda mampu memberikan segala yang terbaik yang Bunda bisa untukmu?

Nak, anakku sayang, engkau tidak harus bertanya sedalam apa cinta bunda yang mengalir untukmu, karena ia mencurah begitu saja laiknya air terjun yang bermuara di bantaran sungai, begitu deras tak terbendungkan…

Perlu seribu kata padanan cinta untuk melukiskan rindu dan kangen yang Bunda rasakan, karena satu kata saja tidak cukup untuk mewakili kuatnya perasaan Bunda kepadamu,

Engkau pun tidak perlu memikirkan bagaimana nanti akan membalas apa yang sebenarnya menjadi kewajiban bunda, tidak! usah kau pikirkan itu nak…

Nak, anakku tercinta, tutur ini bunda buat semata karena kegelisahan yang mengendap lalu mengkristal menjadi gumpalan-gumpalan mimpi nan penuh harap…

Nak, anakku, cukup sudah mata bunda melihat, realita kehidupan yang menyenandungkan melodi sendu menyayat jiwa…

Ya, Bunda melihat anak-anak balita kelaparan dan kekurangan gizi, adakah kelak engkau akan berceloteh riang dikarenakan perutmu telah kenyang?

Bunda melihat banyak anak-anak menerima kekerasan fisik dan emosional, adakah kelak engkau kan bermandikan kasih dan sayang yang melimpah tanpa tepi?

Bunda melihat banyak anak-anak yang tidak memiliki kesempatan belajar dengan baik, adakah kelak engkau akan memuaskan diri dengan belajar di mana pun dan juga kapan pun?

Bunda pun melihat, begitu banyak anak-anak kehilangan senyumnya karena terenggut kerasnya kehidupan jalanan kota, Adakah kelak engkau hendak berbagi cinta kepada mereka? Ataukah engkau menjadi bagian dari kepedihan itu?

Sedang hingga saat ini pun, Bunda tak juga berbuat apa-apa, diam dan terduduk lesu…

Apa yang Bunda bisa? Bunda bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan tiada sedikit pun daya…

Ya, lalu Bunda hanya mampu melakukan hal kecil untukmu, anakku…

Bunda menyambut hadirmu hanya dengan ilmu yang tak seberapa, dan berharap banyak agar engkau anakku, menjadi insan yang beruntung di dunia dan akhirat…

Seribu bayangan Bunda tentangmu anakku, tak mampu menenangkan hati jika belum Bunda menemuimu langsung, agar Bunda dapat mengertimu, agar Bunda dapat mencintai kelebihan dan kekuranganmu, agar Bunda pun dapat belajar banyak darimu…

Maka, datanglah di saat yang tepat, dan berbahagialah menjadi anak Bunda yang hebat! Lalu akan Bunda perkenalkan dunia yang akan menjadi kawan sekaligus lawanmu…

Saat kau dapati Bunda adalah mahluk yang lemah, ingatilah Allah satu-satunya Dzat yang kuat! Saat kau dapati Bunda adalah mahluk yang tidak tahu apa-apa, ingatilah baik-baik bahwa hanya Allah sumber ilmu dari segala ilmu!

Dan saat kau dapati manusia berbondong-bondong membencimu, ingatilah ada Allah yang mencintaiMu, dan saat kau dapati manusia beramai-ramai mengadakan sekutu bagi Allah, ingatilah untuk senantiasa berdiri kokoh meski hanya sendiri!

Nak, anakku, bunda hanya menginginkan satu, hiduplah bersama Tuhanmu, maka bahagialah perjalananmu,

Dengarkan bunda, kita bukan sedang bicara angkara, tuntutan, dan juga obsesi pribadi Bunda…

tapi Bunda bicara CINTA…

Ketika engkau lahir. Mungkin orang akan memberikan penilaian padamu. Positif dan negatif, ditujukan untukmu. Tapi tidak bagi bunda
Apapun kamu. Kamu akan selalu positif. Kamu akan menjadi Permata Hati bunda.

Anakku. Ketika engkau tumbuh. Manusia akan melihatmu. Juga sama seperti bunda. Namun apapun mereka bilang tentang dirimu. Kamu tetap cahaya hati bunda.

nandaku tercinta. Saat engkau beranjak remaja. Setan akan semakin gencar menggodamu. Pinta bunda, ikutilah kata hatimu. Karna bunda hanya bisa mengawasimu, memberikan saran kebaikan padamu, agar engkau tetap menjadi qurata’yun bunda.

Pujaanku. Saat engkau dewasa. Mereka akan kembali mengomentari hidupmu. Jadilah apa yang engkau inginkan.apabila itu berujung pada kebaikan, bunda akan selalu mendukungmu. Ya, karena engkau kebanggaan bunda.

bunda yakin padamu. Karna engkau akan menjadi manusia yang paaaaling bunda sayangi, melebihi dirii bunda sendiri..

bunda yakin padamu, karna engkau akan bunda ajarkan bertasbih, bahkan sejak ketika pertama bunda mengetahui ada dirimu dalam perut bunda.

bunda yakin, karna ayahandamu yang akan mengumandangkan takbir di telingamu. Saat hanya telinga dan hati yang baru bisa kau pergunakan untuk mengenal agamamu.

bunda juga yakin padamu, karna InsyaAllah, bunda akan berusaha menjadi guru pertamamu. Memberikan yang terbaik bagimu, bagi perkembangan jiwa mu, fisik mu, ruhani mu, agama mu.

Anakku.

Kini bunda belum bisa menjadi ibu yang baik. Belum bisa menjadi madrasahmu. Belum layak kau sebut bunda
Ketika ibu ibu yang lain memulai pendidikan mereka sedini mungkin, bundamu ini baru memulainya beberapa waktu yang lalu.
bunda takut pendidikan dan ilmu bunda masih belum cukup untuk mendampingi mu.
Masihkah engkau ikhlas menjadi anak bunda?

Anakku,Seperti yang baru saja bunda bilang,
bunda bukanlah seorang calon ibu yang baik.
Namun cukuplah, akan bunda ajarkan engkau pada kebaikan.
bunda ajarkan kau pada Tuhan kita, Allah Yang Maha Baik.
Dan bunda perkenalkan engkau, pada manusia terbaik. Kekasih yang paling dicintaiNya.

Anakku.
Kala engkau berada di rahim bunda nanti.
Kala engkau bisa berkata ‘bunda’ nanti.
Kala engkau bisa tertatih berjalan lalu memeluk bunda nanti.
Kala engkau bisa mnggandeng tangan ayah dan bunda untuk sholat berjamaah nanti.
Kala engkau meraih pendidikanmu nanti,
Kala engkau menyuapi bunda dengan makanan hasil gaji pertamamu nanti.
Kala engkau mulai harus sabar menyisiri rambut bunda yang sudah memutih nanti,
Kala engkau memapah bunda berjalan nanti,
Hingga kala engkau menyolati mayat bunda nanti.
Semoga, engkau terus berbahagia menjadi anak bunda….
Semoga, engkau tidak merasa kekurangan apa-apa dari tanggung jawab bunda kepadamu..

Semenjak engkau lahir, hingga bunda menutup mata,

yakinlah anakku..
bunda ,Akan selaaaluuu mencintaimu.

Pasti banyak kenangan Indah..
Momen-momen berkesan
Saat bersamamu..
Saat mengantarmu menuju cinta abadi
Cinta Ilahi Rabbi..

syawal 1431 H pkl 01.28 dilayar laptopku
seminggu penuh bunda menyelesaikan menulis surat ini hanya untukmu calon anakku dimasa yg akan datang
bunda tercantikmu ^__^

**************************************************************************************************************

Pengen punya anak yg unyu-unyuu kayak ini 😀

Atau yg kayak ini dehh 😀